Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Thursday, June 30, 2011
059) Tahun 1620 Para Peziarah Menandatangani Perjanjian Mayflower
Kapal Mayflower
"Jika tidak ada uskup, tidak ada raja," demikian seru James I, memberitahukan kepada kaum Puritan bahwa mereka memiliki seorang raja, dengan sendirinya mereka juga mempunyai uskup gereja. Namun ia masih belum berhadapan dengan iman fanatik yang melekat pada para "pemurni" (purifiers) gereja tersebut. Di antara mereka ada yang masih ingin bertahan dalam gereja, tetapi mereka tidak merasakan bahwa reformasi akan berhasil di bawah raja yang bersikap bermusuhan ini. Karena keadaan ini, para Separatis mengundurkan diri dari jemaat Anglikan – dan akhirnya dari sang raja juga.
Sebagai respons atas penolakan mereka terhadap Gereja Anglikan, pemerintah telah memenjarakan dan mengusik sejumlah kaum Separatis. Meskipun pemerintah tidak menekan mereka, gerombolan pengusik mengganggu pertemuan-pertemuan para Separatis.
Robert Browne telah memimpin sejumlah kaum Separatis ke Negeri Belanda, yang menunjukkan toleransi kepada para pembangkang. Namun, mereka tetap merupakan orang asing di negeri itu. Bagaimanapun pluralisme Belanda ini tidak membantu dalam membangun komunitas mereka sendiri, dan banyak yang takut jika anak-anak mereka juga akan menjadi orang-orang yang tidak beragama.
Keresahan ini membuat mereka beralih ke Dunia Baru (Amerika). Mungkin di sana mereka dapat membangun gereja murni yang bersih dari kerusakan Gereja Inggris. Di daerah yang tidak mempunyai pemerintahan yang kokoh, mereka dapat menciptakan pemerintahan yang akan mencerminkan idealisme Calvin. Bahkan daerah baru yang liar sekalipun tidak dapat membendung semangat mereka akan harapan kebebasan.
Pemimpin Separatis, John Robinson, berkata, "Mereka tahu bahwa mereka adalah peziarah." Negeri Belanda tidak merupakan tanah perjanjian, jadi mungkin Amerikalah tanah itu. Dengan sebuah kapal bernama Mayflower, 102 Separatis Inggris, yang kembali sejenak ke Inggris, berlayar dari pelabuhan Plymouth.
Meskipun tujuan mereka ialah Virginia, namun badai mengubah arah mereka dan mendaratkan mereka di Massachusetts. Salah seorang Peziarah itu melukiskan daerah baru itu sebagai "rimba yang sunyi dan mengerikan".
Tidak kurang liarnya dengan tempat mereka mendarat, para peziarah takut pada anarki dan liarnya sifat manusia. Izin yang diberikan untuk mendarat di Virginia tidak mempunyai kekuatan hukum di sini. Mereka harus menciptakan pemerintahan yang tertata agar mereka dapat mendirikan kerajaan Allah.
Berdesak-desakan dalam kapal yang mereka tumpangi, empat puluh satu orang menandatangani Perjanjian Mayflower. Dalam perjanjian itu disepakati bahwa mereka akan mengolah koloni baru ini demi kemuliaan Allah dan demi kemajuan kekristenan. Mereka setuju memberlakukan undang-undang bagi kebaikan masyarakat umum dan berikrar untuk berpegang pada solidaritas kelompok serta menjauhkan kepentingan diri sendiri.
Perjanjian tersebut juga menyatakan bahwa mereka memerintah diri mereka sendiri. Tentunya William Bradford dan Bapa Peziarah lainnya, yang menandatangani perjanjian tersebut, percaya bahwa mereka memerintah tanpa berpisah dari Allah – penguasa segalanya – namun mereka tidak mengadakan persiapan bagi pemerintahan yang dipimpin oleh raja manusia.
James I terkejut mendengar mereka menolak pemerintahan para uskup dan ia juga tidak bersimpati kepada mereka yang menolak pemerintahannya. Tetapi, tanpa harus berurusan dengan kelompok kecil tanpa izin dan liar yang bermukim di seberang lautan ini pun, dia sudah punya cukup masalah.
Sumber : http://www.sarapanpagi.org/100-peristiwa-penting-dalam-sejarah-kristen-vt1555-60.html
060) Tahun 1628 Comenius Diusir dari Negerinya
Orang-orang Katolik secara agresif sedang memaksakan otoritasnya di Bohemia. Kaum Protestan telah dibuang, meskipun untuk beberapa tahun lamanya mereka berupaya bersembunyi. Ketika bahaya membesar pada tahun 1628, satu rombongan melintasi pegunungan dan masuk ke Polandia.
Yang memimpin mereka dalam pembuangan itu ialah pastor, penulis sekaligus guru, Jan Amos Comenius. Ia berhenti menoleh ke belakang melihat negeri tercintanya, dan memimpin warganya dalam doa, meminta agar Allah memelihara "benih terpendam" dalam diri warganya, suatu kelompok yang akan tumbuh dan menghasilkan buah. Comenius tidak akan pernah melihat negerinya lagi.
Perang tiga puluh tahun telah menyita pusat kehidupan Comenius. Ketika perang dimulai pada tahun 1618, ia adalah seorang pastor baru dan kepala sekolah pada golongan Unity of Brethren (Unitas Fratrum), pewaris ajaran Protestan dari Yohanes Hus.
Ketika itu Eropa terdiri dari kawasan-kawasan Katolik, Lutheran dan Calvinis. Bohemia, kawasan Protestan, tidak senang menjadi bagian dari kekaisaran Romawi yang suci, maka mereka selalu memberontak. Pada tanggal 23 Mel 1618, sejumlah pemberontak Protestan menyerang istana kerajaan di Praha dan melemparkan para gubernurnya ke luar jendela. Menurut laporan, orang-orang yang terlempar itu mendarat di atas tumpukan kotoran hewan dan tidak terbunuh; namun dengan Defenestration of Prague, revolusi sedang berlangsung.
Dengan bantuan pasukan Spanyol, Kaisar Ferdinand II menghadang para pemberontak pada pertempuran White Mountain tahun 1620, dan daerah tersebut dengan resmi dinyatakan Katolik. Kaum Protestan terpaksa harus meninggalkan tempat itu. Comenius memulai persembunyian tujuh tahunnya. Dengan berpindah-pindah dari ladang ke ladang secara diam-diam, ia mencoba melayani kaum Brethren yang tersisa. Lima tahun sebelum kelahiran John Bunyan, Comenius menulis The Labyrinth of the World (Labirin Dunia), sebuah alegori berliku-liku mirip Pilgrim's Progress.
Comenius dan kumpulan Brethrennya bermukim di Leszno, Polandia. Di sana ia diangkat sebagai uskup bagi Unitas Fratrum dan menerbitkan buku tentang pendidikan anak-anak serta pelajaran bahasa. Teorinya sangat revolusioner. Semua anak laki-laki dan perempuan, kaya dan miskin harus dididik dengan kurikulum luas yang akan memberikan mereka akses di pelbagai bidang. Pendidikan harus dimulai dari kepedulian ibu, bahkan sejak sebelum lahir, katanya, meskipun hal itu harus melibatkan aspek-aspek bermain dan bukan hanya hafalan. Ia mendukung sederetan periode enam tahun yang dapat dibandingkan dengan prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas dan pendidikan universitas. Sementara itu, para pengajar harus belajar metode mengajar dari alam. Belajar adalah masalah perkembangan, bukan hanya masalah memperoleh informasi.
Perang tiga puluh tahun merebak terus. Kaum Protestan Denmark menyerang kawasan Katolik, tetapi terpukul balik. Raja Swedia, Gustavus Adolphus, memasuki pergolakan ini dengan berpihak pada Protestan. Ia memperoleh beberapa kemenangan, namun ia meninggal pada tahun 1632.
Sementara itu, Comenius tetap meraih reputasi sebagai seorang terpelajar dan pendidik.
Ia menulis The Way of Light (Jalan Terang) dengan harapan bahwa pendidikan yang benar akan meningkatkan perdamaian. Pada tahun 1641, Parlemen Inggris mengundangnya untuk mempraktikkan teorinya dengan mendirikan perguruan "pansophic" (aneka pengetahuan) di Inggris. Sekali lagi perang saudara merebak, yang memaksa Comenius lari. Untuk sementara waktu ia bermukim di Prusia. Dari sana ia pergi ke Swedia sebagai konsultan pendidikan bagi Perdana Menteri, Axel Oxenstierna. Ia juga meminta perdana menteri agar tidak melupakan perihal Brethren ketika perang hampir usai.
Anehnya, Perancis mengubah arah dalam perang itu. Meskipun merupakan negara Katolik, Perancis melihat kesempatan melumpuhkan kekuatan dinasti Hapsburg dan memenangkan beberapa kawasan baginya sendiri. Pasukan Perancis memasuki kancah perang pada tahun 1635, dan perang terus berlanjut. Pada tahun 1648, Perdamaian Westphalia membagi-bagi rampasan perang yang telah menguras Eropa. Kekaisaran Roma porak-poranda dan ada yang menafsirkan bahwa Jerman telah kehilangan setengah penduduknya dalam peperangan itu. Perancis 'memenangkan kawasan-kawasan baru. Kaum Calvinis dan Lutheran meraih keuntungan dengan pencapaian toleransi kaum Calvinis.
Namun, kaum Brethren tidak menerima baik hak kembali ke Bohemia maupun daerah permukiman baru. Comenius melanjutkan pengembaraannya sepanjang sisa hidupnya. Selama dua puluh dua tahun ia berkelana, melayani kaum Brethren yang terbuang jauh. Ketika rumahnya di Polandia dihakar, ia kehilangan sebagian besar ensiklopedi yang disusunnya. Namun, berkat perlindungan seorang Belanda, ia menerbitkan banyak buku tentang pendidikan – termasuk buku bergambar pertama untuk anak-anak, The World in Pictures (Dunia dalam Gambar).
Comenius dihargai dan dihormati, namun ia jarang didengar. Pada usia tujuh puluh lima tahun ia muncul di sebuah persidangan untuk memohon perdamaian antara Inggris dan Negeri Belanda – tetapi mereka meremehkan sarannya. la mempunyai visi pendidikan yang akan membawa kesempurnaan spiritual dan perdamaian dunia. Meski tujuan pertama menarik beberapa negara, tak satu pun ingin mencoba tujuan kedua.
Walaupun ia dengan tepat dapat dikatakan sebagai salah seorang Bapa Oikumene, Comenius sering tidak dihiraukan. Ia lehih dihargai dunia sekular daripada oleh Gereja, dan ia sering dielukan sebagai Bapa Pendidikan Modern.
"Benih terpendam" yang didoakan Comenius muncul di kemudian hari. Serombongan Brethren bermigrasi ke Herrnhut, di Jerman, pada awal-awal abad kedelapan belas. Di sana terjadilah kebangkitan spiritual yang menyulut upaya misi besar yang merambat ke seluruh dunia.
Sumber : http://www.sarapanpagi.org/100-peristiwa-penting-dalam-sejarah-kristen-vt1555-60.html
061) Tahun 1646 Pengakuan Iman Westminster
Pertemuan Westminster
Tidak semua orang di Inggris menerima gereja negara. Dari awal, banyak yang telah melihat Anglikanisme sebagai sistem yang tidak menjangkau doktrin-doktrin Reformasi. Ratu Elisabeth I telah menyetujui Tiga Puluh Sembilan Pasal pada tahun 1563, yang mendirikan Gereja Inggris episkopal. Dari awal, kaum Puritan telah mendesak terbentuknya pemerintahan Presbiterian dan kebaktian-kebaktian yang kurang ritual, namun permintaan mereka tidak diacuhkan.
Para raja Stuart – James I dan putranya, Charles I – telah berupaya meningkatkan kekuatan sistem episkopal. Charles yang menginginkan keselarasan di Skotlandia dan Inggris, berupaya memaksakan Anglikanisme kepada orang-orang Presbiterian Skotlandia. Situasi yang mudah berubah ini ditangani dengan ceroboh sehingga mengakibatkan Perang Saudara di Inggris.
Charles I mempunyai sejarah pertikaian panjang dengan parlemen. Pada musim semi tahun 1640, ia membentuk parlemen yang menentangnya dengan keras. Serta-merta ia membubarkannya dan membentuk parlemen lain pada musim gugur tahun yang sama. Parlemen berunsurkan Puritan yang bertahan lama inilah yang menjadi penyebab kejatuhannya.
Dua tahun kemudian, pada parlemen yang sama, raja mencoba menangkap sejumlah anggota dewan yang menentangnya. Tuduhannya bahwa orang-orang tersebut telah berkhianat, memicu perang yang membawa Inggris menganut Puritanisme untuk beberapa waktu lamanya.
Pada awal tahun 1643, parlemen telah menghilangkan sistem episkopal. Untuk mendirikan sebuah Gereja Presbiterian sebagai gantinya, mereka mengadakan pertemuan di Westminster Abbey. Seratus dua puluh satu pendeta dan tiga puluh orang awam — beberapa dari mereka adalah orang-orang Skotlandia — berhimpun untuk membangun kembali gereja Inggris.
Selama enam tahun Pertemuan Westminster tersebut, Oliver Cromwell, pemimpin pasukan parlemen itu, membawa para Puritan berkuasa. Sang raja dipenggal kepalanya pada tahun 1649.
Pertemuan Westminster tersebut mewujudkan Pengakuan Iman Westminster (1646), suatu karya yang akan menjadi klasik dalam pemikiran presbterian, dan Katekismus Kecil Westminster (1647) serta Katekismus Besar (1648). Kepercayaan yang mereka gariskan sepenuhnya Calvanistik.
Pengakuan Iman tersebut mengajarkan inspirasi kitab suci dengan menyatakan Alkitab sebagai otoritas tunggal dalam kepercayaan Kristen.
Dalam bahasa aslinya, kitab suci "diinspirasikan (diilhami) Tuhan, dan ... dipelihara kesuciannya sepanjang masa". Namun, jaminan akan otoritas ilahi berasal "dari karya Roh Kudus dari dalam".
Pengakuan Iman Westminster menyertakan juga doktrin takdir – sebuah topik yang tidak
digubris Tiga Puluh Sembilan Pasal. Pengakuan Iman itu menyatakan, "Sebagian manusia dan malaikat ditakdirkan untuk hidup abadi, dan yang lain ditetapkan untuk kematian abadi." Namun, "Allah bukan pencipta dosa, dan bukan juga kekerasan yang ditawarkan bagi kehendak makhluk".
Lebih lanjut, Pengakuan Iman itu menekankan hubungan Allah dengan ciptaan-Nya melalui perjanjian. Penebusan umat manusia merupakan perimbangan antara kedaulatan Allah dan pertanggungjawaban manusia.
Pengakuan Iman ditetapkan oleh para penatua, bukan oleh pastor dan uskup, serta tidak memberi tempat (seperti yang dilakukan oleh Tiga Puluh Sembilan Pasal) bagi transsubstansiasi. Pengakuan Iman itu juga mengikat orang percaya pada hari Sabat, hari yang dikhususkan untuk berdoa secara pribadi dan ibadah umum.
Namun Puritanisme di Inggris tidak bertahan lama. Pada tahun 1658, dengan kematian Oliver Cromwell, tidak ada pemimpin kuat yang muncul dari pihak Puritan. Meskipun putra Cromwell, Richard, telah menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Pelindung Inggris, ia tidak memiliki kemampuan memimpin seperti ayahnya. Richard mengundurkan diri secara terhormat, dan Inggris kembali menjadi kerajaan di bawah Charles II, putra Charles I.
Di Inggris, raja baru ini dengan sukses memulihkan sistem episkopal. Namun orang-orang Skotlandia berpegang erat pada Pengakuan Iman Westminster, dengan mengikatnya pada gereja Skotlandia. Melalui Skotlandia, Pengakuan Iman Westminster telah menjadi julukan bagi "Calvinisme yang bersejarah".
062) Tahun 1648 George Fox Mendirikan Society of Friends
George Fox pendiri Quaker
Abad ketujuh belas adalah masa perubahan agama dan kebebasan yang sedikit demi sedikit meningkat. Dalam satu gereja "universal", bertumbuh banyak aliran. Reformasi telah mengajarkan bahwa hanya Alkitab yang mendasari iman. Namun pertanyaannya, interpretasi apa yang harus diterima orang Kristen? Perbedaan pun merebak – semuanya atas nama Kitab Suci.
Kaum Puritan menentang Gereja Inggris yang tidak sepaham dengan mereka tentang Kitab Suci. Tetapi, meskipun mereka tidak menyukai sistem imamat Anglikan, mereka tidak memutuskan hubungan sama sekali dengan kaum rohaniwan.
George Fox, yang mendirikan Society of Friends – atau Quakers – melakukan hal itu.
Seperti yang lainnya, George Fox tidak me-rasa nyaman dengan agama-agama formal pada zamannya. Juga kelompok-kelompok pembangkang seperti Presbiterian dan Independen, bagi Fox, mempunyai amat banyak formalitas. Ia percaya bahwa mereka menyerah pada berbagai tekanan pemerintah. Gereja telah menjadi pelayan umum dan telah menjauhkan diri dari Allah.
Dalam usahanya mencari kedamaian spiritual, Fox mengunjungi banyak penasihat, tetapi tak ada seorang pun yang dapat membantunya. Pada suatu hari, tahun 1647, ada suara yang mengatakan, "Ada satu, yaitu Yesus Kristus, yang dapat berbicara tentang kondisimu." Hal itu membawa perubahan pada Fox, yang sejak itu mendedikasikan dirinya untuk mengikuti terang yang ada pada dirinya (Inner Light) yang telah diberikan Allah – dan pada setiap orang yang menerima-Nya. Semua orang Kristen – semua sahabat Yesus – mempunyai akses langsung kepada Allah. Fox mengajarkan bahwa dengan mengikuti terang yang telah dianugerahkan Allah, siapa pun dapat melumpuhkan kekuatan setan dan cengkeraman dosa.
Ajaran-ajaran Fox yang sederhana tetapi juga keras menarik banyak peminat. Para sahabat (Friends), sebutan bagi mereka, meninggalkan tradisi bersumpah, berpakaian sederhana, makan hati-hati dan bicara dengan jujur. Mereka menentang keterlibatan dalam peperangan. Meskipun ditentang pemerintah, mereka memprotes segala formalitas kebaktian, mereka menolak mengangkat topi bagi siapa pun, mereka tidak membayar persepuluhan (merupakan pajak penghasilan, di Inggris) pada gereja negara.
Banyak Society of Friends bermunculan di Inggris, selama George Fox yang berani itu berkhotbah. Di rumah-rumah tempat mereka mengadakan berbagai pertemuan, para aristokrat dan orang biasa bersama-sama mengikuti kebaktian. Tidak ada rohaniwan yang istimewa. Pria dan wanita dapat berbicara karena mereka merasa bahwa mereka dituntun Rob.
Dalam sebuah kelompok yang bergantung pada dorongan Roh secara pribadi, terdapat juga penyimpangan – dan ini membuat banyak orang yang sebenarnya toleran berhalik menentang Friends. Penekanan Friends pada kebebasan juga mengundang oposisi pemerintah.
Fox dipenjarakan karena ajarannya. Ketika ia berhadapan dengan seorang hakim yang mencela kepercayaan kelompoknya, Fox memperingatkannya untuk "gentar pada firman Allah".
"Kalianlah para pembuat gentar, quakers," jawab hakim tersebut. Nama itu menjadi abadi.
Di bawah pemerintahan Oliver Cromwell, toleransi menjadi peraturan umum bagi berbagai aliran yang berbeda, yang menyusun bala tentara dan kesatuan politiknya. Meskipun Cromwell kagum pada kejujuran dan integritas para Quaker, ia tidak memperluas toleransi terhadap mereka. Meskipun penganiayaan sudah berkurang dibanding pada masa pemerintahan raja-raja, iman yang mencari kebebasan individual seperti itu tidak dapat diterima oleh seorang pemimpin sekaliber Cromwell.
Meskipun menghadapi penganiayaan, Quaker bertumbuh, karena banyak yang merasakan sentuhan iman yang menekankan bahwa setiap individu harus mengalami Kristus di dalam dirinya.
Sumber :http://www.sarapanpagi.org/100-peristiwa-penting-dalam-sejarah-kristen-vt1555-60.html
063) Tahun 1662 Rembrandt Menyelesaikan Lukisan Kembalinya Anak Hilang
REMBRANDT, The Return of the Prodigal Son, The Hermitage, Leningrad.
Karya seni yang sempurna, Kembalinya Anak Hilang diciptakan oleh seorang yang paham tentang apa artinya menjadi seorang pemboros. Melalui karya seninya, ia menunjukkan betapa dalamnya dunia ini membutuhkan keselamatan. Rembrandt Harmenszoon van Rijn menjadi pelukis Protestan terbesar – seorang yang dalam dirinya, iman dan seni terpadu dengan selaras.
Ia dilahirkan dalam keluarga gereja Reformasi yang amat saleh. Meskipun orangtuanya menginginkan ia menjadi orang terpelajar, jelaslah bahwa ia dianugerahi bakat seni lukis. Mengikuti kebiasaan pada waktu itu, Rembrandt magang pada pelukis yang mapan dan belajar melukis cerita-cerita Alkitab, peristiwa-peristiwa dalam sejarah, serta mitologi Romawi dan Yunani. Namun, seni lukis yang ia kembangkan adalah gayanya sendiri yang agak berbeda. Para pelukis Protestan lain membatasi lukisan religiusnya pada gambar-gambar yang ada di Alkitab, dan para pelukis Katolik menggambarkan para santo; tetapi Rembrandt membuat setiap lukisannya sebagai suatu pernyataan iman. Ketika orang-orang Protestan menyatakan bahwa Alkitab sajalah norma agama bagi manusia, Rembrandt memperlihatkan bahwa Kitab Suci dapat juga menjadi norma bagi seni lukis agamawi.
Pada zaman Rembrandt, orang-orang dalam lukisan-lukisan Alkitab tampak seperti pahlawan luar biasa, hanya sedikit berbeda dari para dewa dan manusia setengah dewa seperti yang digambarkan dalam lukisan-lukisan mitologis. Tidak demikian halnya pada gambaran-gambaran Rembrandt. Ia menunjukkan kemanusiaan sebagaimana adanya: cacat, berdosa dan membutuhkan keselamatan. Lelaki dan perempuan "sesungguhnya" mengisi karyanya, termasuk istri dan anaknya – dan juga orang-orang jalanan. Dengan berpakaian seorang pengemis lesu yang mengenakan sorban, Rembrandt menjadikan dirinya potret raja Israel yang menakjubkan. Seorang Yahudi tua digambarkan sebagai Rasul Paulus.
Rembrandt juga menjadikan dirinya sebagai model. Dalam The Raising of the Cross, yang menggambarkan dosa manusia, ia membantu menyalib kristus. Meskipun ia menciptakan gambar tersebut, pelukis tersebut tak luput dari kebutuhan keselamatan pribadi.
Kepiawaiannya menggunakan chiaroscuro – suatu teknik yang mengkontraskan latar belakang gelap dengan cahaya yang menyoroti figur dalam gambar – adalah ciri khas karya Rembrandt yang terbaik. Pekatnya warna gelap seringkali dengan jelas memperlihatkan cahaya spiritual yang timbul dari dalam modelnya.
Namun, tujuan utama Rembrandt bukanlah untuk menginjili. Ia mencari nafkah dengan melukis dan karyanya terdiri dari baik yang "spiritual" maupun "duniawi". Ada karyanya yang meskipun tidak dimaksudkan menggambarkan suasana keagamaan, namun mengandung perspektif sang pelukis tentang dunia dan kemanusiaan. Ia melihat keindahan pada alam ciptaan Allah – dan ia melihat dengan baik keindahan dan dosa pada wajah-wajah manusia di hadapannya.
Meskipun seni lukisnya menunjukkan ketulusan Kristen, kehidupan pribadi Rembrandt tidaklah tanpa cacat. Ia menikahi Saskia, seorang wanita muda dan kaya, yang meninggal pada tahun 1642. Surat wasiatnya mengatakan bahwa: jika Rembrandt menikah lagi, seluruh kekayaannya akan diwarisi anak mereka, Titus. Terhimpit kesukaran keuangan, sang pelukis tentunya merasa bahwa is tidak dapat mengorbankan uang warisan. Karenanya, ia menjadikan wanita pengurus rumah tangganya Hendrickje sebagai istrinya di luar nikah.
Rembrandt menurunkan pada generasi-generasi berikutnya gambaran unik Protestan ten-tang dunia ciptaan Allah. Calvin pernah menyerukan, "Hanya benda-benda yang sanggup dilihat mats yang harus dilukis." Mata Rembrandt menciptakan gambar yang memberitakan kebenaran. Kembalinya Anak Hilang menunjukkan kemanusiaan Rembrandt, cinta akan uraian mendalam dan persepsi yang tajam akan hati manusia. Ayah pemaaf, anak yang menyesal dan anak sulung, dalam pakaian abad ketujuh belas, semuanya sangat cocok dengan perumpamaan Yesus. Hal ini mengingatkan kita akan keabadian dan ketepatan waktu Kitab Suci.
064) Tahun 1675 Philip Jacob Spener Menerbitkan Pia Desideria
Philip Jacob Spener
Menjelang akhir abad ketujuh belas, Gereja Lutheran telah menjauh dari pandangannya sendiri akan iman pribadi dan dalam keinginan mencari doktrin yang benar. Seorang pastor menentang keadaan demikian dengan sebuah buku kecil yang mengubah Protestanisme.
Ketika belajar di Universitas Strasbourg, Philip Jacob Spener telah mempelajari bahasa-bahasa, doktrin dan sejarah Alkitab yang umumnya adalah bagian dari pelajaran pelayanan. Tetapi para profesornya juga mengingatkan dia tentang perlunya kelahiran kembali secara spiritual dan etika Kristen. Spener menemukan kebutuhan penerapan kesarjanaannya pada pengalaman pribadinya. Jika seseorang tidak lahir baru maka semua agama formal tidak akan berpengaruh.
Ketika pendeta baru ini berkhotbah menentang kemalasan dan perilaku amoral, dan berupaya agar jemaatnya mempraktikkan iman Kristen secara pribadi, ia berhadapan dengan kontroversi. Kaum rohaniwan Gereja Lutheran yang menganggap diri mereka sebagai pusat gereja merasa terancam dengan pembalikan yang bersifat individualistis seperti yang dikhotbahkannya.
Spener mengadakan berbagai persekutuan doa, yang dikenal sebagai collegia pietatis, yang kemudian menjadi dasar gerakan Pietisme.
Tidak puas dengan berkhotbah dari mimbarnya sendiri di Frankfurt dan pembentukan kelompok-kelompok lokal, pastor Lutheran tersebut menuliskan ide-idenya untuk suatu pembaruan. Pada tahun 1675 ia menerbitkan Pia Desideria, "Hasrat Kesalehan", yang menampilkan enam butir rencana.
Pertama, ia ingin melihat orang-orang Kristen mempunyai pemahaman tentang Kitab Suci yang lebih mendalam dan lebih berpengaruh pada kehidupan. Untuk mencapai tujuan ini, ia menyarankan pertemuan-pertemuan kecil di rumah-rumah. Kalangan Gereja abad ketujuh belas melihat hal ini sebagai sesuatu yang baru dan mungkin merupakan ide yang mengancam.
Spener menghendaki Gereja memandang imamat am semua orang percaya dengan serius, maka ia menyarankan memberi tanggung jawab kepada orang-orang awam yang ada di lingkungan collegia pietatis. Meskipun pastor itu penting adanya, ia tidak harus memikul seluruh beban untuk memberikan santapan rohani.
Untuk menentang ketakutan pada masanya, bahwa individualisme menjurus pada keonaran, Spener menyarankan agar Gereja menekankan pengalaman pribadi. Ia melihat bahwa doktrin yang benar saja akan menjurus ke iman yang mati.
Memetik pelajaran dari Perang Tiga Puluh Tabun yang telah membuktikan bahaya kontroversi agama, Spener berupaya mengelakkan konflik teologis. Jika tidak terelakkan, maka perdebatan harus dilakukan dengan semangat cinta kasih. Namun, ia mendesak orang-orang agar berpegang pada butir-butir iman yang penting saja dan tidak bertele-tele dengan hal-hal remeh. Lebih baik, ia katakan pada mereka, berdoa bagi orang yang melakukan kesalahan daripada memarahi dia.
Para pastor bukan saja harus mempelajari Alkitab dan teologi, mereka juga harus tabu menangani kaum awam, ujar Spener. Imam yang tidak dapat menunjukkan hidup devosi tidak dapat menuntun jemaatnya ke arah itu.
Ia juga mendorong para pastor menyampaikan khotbah yang menerapkan Kitab Suci dalam kehidupan. Mereka harus mengilhami dan memberi pengetahuan yang dapat dimengerti dan membangkitkan. Daripada hanya berceramah, para pastor diharuskan memberi inspirasi kepada umat Tuhan.
Rangsangan yang dibangkitkan oleh ide-ide Spener menyebabkan ia berpindah dari Frankfurt ke Dresden dan kemudian ke Berlin. Di Berlin, pada tahun 1694, ia dan August Francke membentuk Universitas Halle. Di bawah Francke, universitas itu menjadi pusat penginjilan dan misi. Bertahun-tahun setelah Gereja Katolik membawa misinya ke Asia dan Amerika, misi Protestan bermula di Halle, sebagai pusat untuk studi bahasa-bahasa Timur dan penerjemahan Alkitab.
Meskipun kaum rohaniwan melihat ancaman besar pada program reformasi Spener, pro-gram itu membawa kegembiraan bagi kaum awam. Di gereja-gereja yang telah menganut ajarannya, kehidupan keluarga meningkat, standar-standar moral dibangkitkan, dan orangorang memahami bahwa kekristenan lebih daripada sekadar menyetujui suatu katekimus saja. Berbagai pertemuan kelompok-kelompok kecil mewujudkan semangat kekeluargaan dalam jemaat, dan Alkitab menjadi hidup bagi orangorang percaya.
Luther pernah menekankan pentingnya jemaat menyanyikan puji-pujian, namun kebiasaan itu telah melemah. Pietisme memberi dorongan besar bagi puji-pujian, dan penulis seperti Paul Gerhardt, Joachim Neander dan Gerhardt Tersteegen, menciptakan puji-pujian yang di kemudian hari diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai buku-buku kidung Methodis.
Banyak gereja yang terpengaruh Pietisme mengembangkan pemahaman Alkitab, doa kelompok, dan mencapai lebih daripada yang diidealkan pendirinya. Aspek pragmatis Pietisme – yang menekankan perasaan dan penyebaran Kekristenan – akan berdampak jauh dan khususnya berpengaruh dalam perkembangan kekristenan di Amerika.
Sumber : http://www.sarapanpagi.org/100-peristiwa-penting-dalam-sejarah-kristen-vt1555-60.html
065) Tahun 1678 Karya John Bunyan The Pilgrim's Progress Diterbitkan
Salah satu karya klasik Kristen terbesar muncul bukan dari aula-aula universitas, tetapi dari sebuah sel penjara. Orang yang menulis itu bukanlah orang terpelajar, tetapi seorang guru agama berpendidikan rendah.
John Bunyan dilahirkan di Elston, Bedfordshire, pada tahun 1628. Rumahnya adalah gubuk kecil, dan ayahnya seorang tukang solder, yang setiap hari mendorong keretanya di sepanjang jalan, berhenti di rumah-rumah untuk menambal panci-panci.
John mendapat pendidikan di sebuah sekolah grammar (yang mengutamakan bahasa Latin). Tetapi seperti anak-anak lain pada zamannya, ia melanjutkan pekerjaan ayahnya. Pada Perang Saudara Inggris, ia menjadi tentara – besar kemungkinan di pihak Puritan. Pada umur sembilan belas tahun ia menikah, dan istrinya yang Kristen membimbingnya untuk mencoha mengubah hidupnya. Namun, ia seringkali tergelincir pada kebiasaan lamanya. Meskipun hidupnya cukup memberi kesan yang baik pada tetangga-tetangganya, ia menggambarkan dirinya sebagai "seorang yang berpura-pura secara berlebihan".
Pada tahun 1651, Bunyan mulai menghadiri pertemuan Independen di Bedford, dan telah tergerak oleh khotbah alkitabiah yang dibawakan seorang pastor. la mulai merenungkan Kitab Suci, hingga konflik dalam dirinya berakhir dengan jaminan anugerah. Keselamatan telah datang kepadanya. la bergabung dengan jemaat Bedford dan mulai berkhotbah. Di sana ia membuat orang kagum akan kebolehan seorang tukang solder itu.
Meskipun Raja Charles II pada mulanya menjanjikan kebebasan beragama, karena pertumbuhannya (jumlahnya), Gereja Anglikanlah satu-satunya Gereja yang diakui. Pertentangan atau perbedaan pendapat tidak diperbolehkan, dan pada tahun 1661 John dipenjarakan di penjara Bedford karena ajarannya. Ia mendekam di sana hingga tahun 1672, ketika Charles mengeluarkan Declaration of Indulgence, yang memberi kelonggaran bagi kaum non-Anglikan.
Setelah ia dibebaskan, rumah pertemuan kaum Independen memanggilnya untuk menjadi pastor mereka. la menerima surat izin berkhotbah dan dikenal sebagai Uskup Bunyan – mungkin karena merupakan tokoh jenius penyatu kaum Independen di kawasannya. Namun, toleransi tersebut tidak bertahan lama.
Pada tahun 1675 Bunyan sekali lagi dipenjarakan, dan ia memulai karya agungnya: The Pilgrim's Progress (Perjalanan Seorang Safir). Alegori tentang keselamatan dan perjalanan Kristen ini telah menghasilkan ungkapan-ungkapan indah seperti "Vanity Fair", "The Slough of Despond", "House Beautiful", "Muckraking" dan "Hanging is too good for him". Menyimpulkan hanya dari pengalamannya sendiri dan Alkitab, pengajar agama yang tidak terpelajar ini menciptakan sastra yang mempesona bagi mereka yang mengadakan perjalanan atau yang akan mengadakan perjalanan – ziarah dari Kota Kehancuran ke Kota Surgawi.
Mungkin, karena begitu banyak pembaca yang mengalami perjalanan ziarah yang sama dalam hidup mereka, The Pilgrim's Progress menjadi buku devosional Kristen terlaris di dunia. Bunyan menggambarkan keadaan paling intim jiwa-jiwa Kristen. Kesadarannya akan anugerah Allah yang mendalam kepada dirinya sendiri memberikan Bunyan kesanggupan berbicara kepada banyak orang, bahkan berbagai generasi, tentang keadaan spiritual mereka sendiri.
Karya-karya Bunyan lain seperti Grace Abounding to the Chief of Sinners, The Life and Death of Mr. Badman dan The Holy War tidak mencapai popularitas seperti The Pilgrim's Progress. Namun, buku yang ditulis secara sederhana ini telah menyentuh ribuan orang dan telah menjadi buku yang klasik.
Subscribe to:
Posts (Atom)






