Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Saturday, July 2, 2011
031) Tahun 1093 Anselmus Menjadi Uskup Agung Canterbury
Salah seorang teolog terbesar Inggris lahir di Italia dan pernah bertengkar dengan dua orang raja.
Anselmus lahir di Alpen, Italia, sekitar tahun 1033. la menolak keinginan ayahnya agar ia meniti karir di bidang politik dan mengembara keliling Eropa untuk beberapa tahun lamanya. Seperti anak-anak muda lainnya yang cerdas dan bergejolak, ia bergabung dengan biara. Di biara Bec, Normandia, di bawah asuhan seorang guru yang hebat, Lanfranc, Anselmus memulai karir yang patut dicatat.
Pada tahun 1066 William dari Normandia menaklukkan Inggris. Pada tahun-tahun berikutnya, raja baru ini membawa banyak guru-guru Normandia beserta biarawan ke Inggris. Di antara mereka terdapat Lanfranc, yang menjadi uskup agung Canterbury pada tahun 1070. Anselmus mengambil tempat penasihat sebagai kepala biara Bec.
Pada tahun 1093, William II, putra sang penakluk, mengangkat Anselmus sebagai uskup agung Canterbury. Namun itu bukanlah langkah yang meningkatkan hubungan Gereja dan negara. Raja yang keras kepala dan agresif itu mengambil hak penempatan para pastor di kerajaannya. Anselmus, seorang yang sederhana yang ingin melindungi Gereja, tanah serta dananya dari cengkeraman para raja yang tamak, menolak hal itu. Untuk sementara waktu uskup agung tersebut hidup dalam pengasingan di Italia. William menyita semua dana yang disalurkan ke Canterbury.
Ketika William mangkat, saudaranya Henry I menggantikannya. Meskipun ia meminta Anselmus kembali, "pertempuran" antara gereja dan negara tidak kunjung usai. Henry sama jahatnya dengan saudaranya, dan sekali lagi Anselmus hidup di pengasingan.
Selama ia di Inggris, Anselmus telah membuktikan bahwa ia adalah gembala berhati lembut dan administrator mahir. Ketika berada dalam pengasingan, ia telah membuktikan bahwa ia seorang teolog besar, karena pada saat itulah ia menulis karya-karyanya yang hebat.
Dalam Cur Deus Homo (Mengapa Allah Menjadi Manusia) Anselmus menampilkan teori tentang bagaimana kematian Kristus di kayu salib, yang mendamaikan manusia dengan Allah. Allah, kata Anselmus, adalah Tuhan alam semesta, Ada (Being) yang kehormatan-Nya tersinggung oleh dosa manusia. Meskipun Ia ingin mengampuni manusia, agar ketertiban moral pulih kembali di jagat raya, la tak dapat begitu saja "menutup mata" atas dosa. Harus diadakan pengorbanan, sesuatu yang setimpal dengan pelanggaran itu. Karena dosa itu berasal dari manusia, pengorbanan itu juga harus dilakukan oleh manusia. Namun manusia tidak dapat mempersembahkan pengorbanan setimpal. Maka Allah menjadi manusia, dan yang mempersembahkan pengorbanan itu adalah baik Allah dan manusia: Kristus.
Ide Anselmus ini dikenal sebagai "Teori Pengorbanan" bagi penebusan. Sampai saat ini, teori tersebut merupakan penjelasan teologi terkenal tentang karya penebusan Kristus. Ia memiliki sumber-sumber alkitabiah seperti: "Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka ..." (2 Kor. 5:19).
Anselmus adalah salah seorang "terpelajar", seorang ahli Kristen yang mencoba memasukkan logika dalam pelayanan iman. Meskipun Anselmus mengetahui Alkitab dengan baik, tetapi ia ingin menguji kekuatan logika manusia dalam upayanya membuktikan doktrinnya. Namun selalu imanlah yang mendasari semua itu. Dalam karyanya Proslogium, yang pada awalnya berjudul Fides Quaerens Intellectum (Iman Mencari Pengertian), Anselmus membuat pernyataan terkenal, "Saya percaya agar dapat mengerti." Yang ia maksudkan dengan pernyataan itu adalah bahwa mereka yang mencari kebenaran harus beriman dahulu, tidak sebaliknya. la mengemukakan argumentasi ontologi (informasi yang dapat mengarah ke penemuan sesuatu yang penting) untuk percaya kepada Allah. Singkatnya, ia menyatakan bahwa rasio manusia membutuhkan ide mengenai Ada (Being) yang sempurna (Allah), oleh sebab itu Being tersebut harus ada. Ide ini telah menawan hati banyak filsuf dan teolog sepanjang masa.
Sumber : http://www.sarapanpagi.org/100-peristiwa-penting-dalam-sejarah-kristen-vt1555-20.html
032) Tahun 1095 Paus Urbanus II Melancarkan Perang Salib Pertama
Pengepungan Antiokia
Meskipun menjelang abad kesebelas sebagian besar Eropa memeluk agama Kristen secara formal — setiap anak dipermandikan, hierarki gereja telah ada untuk menempatkan setiap orang percaya di bawah bimbingan pastoral, pernikahan dilangsungkan di Gereja, dan orang yang sekarat menerima ritual gereja terakhir — namun Eropa tidak memperlihatkan diri sebagai Kerajaan Allah. Pertikaian selalu bermunculan di antara pangeran-pangeran Kristen, dan peperangan antara para bangsawan yang haus tanah membuat rakyat menderita.
Pada tahun 1088, seorang Perancis bernama Urbanus II menjadi Paus. Kepausannya itu ditandai dengan pertikaian raja Jerman, Henry IV — kelanjutan kebijakan pembaruan oleh Gregorius VIII yang tidak menghasilkan apa-apa. Paus yang baru ini tidak ingin meneruskan pertikaian ini. Tetapi ia ingin menyatukan semua kerajaan Kristen. Ketika Kaisar Alexis dari Konstantinopel meminta bantuan Paus melawan orang-orang Muslim Turki, Urbanus melihat bahwa adanya musuh bersama ini akan membantu mencapai tujuannya.
Tidak masalah meskipun Paus telah mengucilkan patriarkh Konstantinopel, serta Katolik dan Kristen Ortodoks Timor tidak lagi merupakan satu gereja. Urbanus mencari jalan untuk menguasai Timur, sementara ia menemukan cara pengalihan bagi para pangeran Barat yang bertengkar terus.
Pada tahun 1095 Urbanus mengadakan konsili Clermont. Di sana ia menyampaikan khotbahnya yang menggerakkan: "Telah tersebar sebuah cerita mengerikan ... sebuah golongan terkutuk yang sama sekali diasingkan Allah ... telah menyerang tanah (negara) orang Kristen dan memerangi penduduk setempat dengan pedang, menjarah dan membakar." la berseru: "Pisahkanlah daerah itu dari tangan bangsa yang jahat itu dan jadikanlah sebagai milikmu."
"Deus vult! Deus vult! (Allah menghendakinya)," teriak para peserta. Ungkapan itu telah menjadi slogan perang pasukan Perang Salib. Ketika para utusan Paus melintasi Eropa, merekrut para kesatria untuk pergi ke Palestina, mereka mendapatkan respons antusias dari pejuang-pejuang Perancis dan Italia. Banyak di antaranya tersentak karena tujuan agamawi, tetapi tidak diragukan juga bahwa yang lain berangkat untuk keuntungan ekonomi. Ada juga yang ingin berpetualang merampas kembali tanah peziarahan di Palestina, yang telah jatuh ke tangan Muslim.
Mungkin, para pejuang tersebut merasa bahwa membunuh seorang musuh non-Kristen adalah kebajikan. Membabat orang-orang kafir yang telah merampas tanah suci orang Kristen tampaknya seperti tindakan melayani Allah.
Untuk mendorong tentara Perang Salib, Urbanus dan para paus yang mengikutinya menekankan "keuntungan" spiritual dari perang melawan orang-orang Muslim itu. Dari sebuah halaman Alquran, Urbanus meyakinkan para pejuang itu bahwa dengan melakukan perbuatan ini, mereka akan langsung masuk surga, atau sekurang-kurangnya dapat memperpendek waktu di purgatory.
Dalam perjalanannya menuju tanah suci, para tentara Perang Salib berhenti di Konstantinopel. Selama mereka ada di sana, hanya satu hal yang ditunjukkan: Persatuan antara Timor dan Barat masih mustahil. Sang kaisar melihat para prajurit yang berpakaian besi itu sebagai ancaman bagi takhtanya. Ketika para tentara Perang Salib mengetahui bahwa Alexis telah membuat perjanjian dengan orang-orang Turki, mereka merasakan bahwa "pengkhianat" ini telah menggagalkan bagian pertama misi mereka: menghalau orang-orang Turki dari Konstantinopel.
Dengan bekal dari sang kaisar, pasukan tersebut melanjutkan perjalanannya ke selatan dan timur, menduduki kota-kota Antiokhia dan Yerusalem. Banjir darah mengikuti kemenangan mereka di Kota Suci itu. Taktik para tentara Perang Salib ialah "tidak membawa tawanan". Seorang pengamat yang merestui tindakan tersebut menulis bahwa para prajurit "menunggang kuda mereka dalam darah yang tingginya mencapai tali kekang kuda".
Setelah mendirikan kerajaan Latin di Yerusalem, dan dengan mengangkat Godfrey dari Bouillon sebagai penguasanya, mereka berubah sikap, dari penyerangan ke pertahanan. Mereka mulai membangun benteng-benteng baru, yang hingga kini, sebagian darinya masih terlihat.
Pada tahun-tahun berikutnya, terbentuklah ordo-ordo baru yang bersifat setengah militer dan setengah keagamaan. Ordo paling terkenal adalah Ordo Bait Allah (Knights Templars) dan Ordo Rumah Sakit (Knights Hospitalers). Meski pun pada awalnya dibentuk untuk membantu para tentara Perang Salib, mereka menjadi organisasi militer yang tangguh dalam pendiriannya sendiri.
Perang Salib pertama merupakan yang paling sukses. Meskipun agak dramatis dan bersemangat, berbagai upaya kemiliteran ini tidak menahan orang-orang Muslim secara efektif. Pada tahun 1291, pasukan Muslim menduduki kola Acre, yang secara efektif mengakhiri Perang Salib.
Dalam banyak hal, Perang Salib telah meninggalkan warisan negatif. Hubungan yang rusak antara gereja-gereja Timur dan Barat, dan kekejaman para tentara Perang Salib hanya membuat musuh-musuh mereka lebih fanatik. Ditambah lagi, semua pelajaran yang diterima selama peperangan, telah menjadi bagian dari strategi mereka untuk diterapkan dalam pertempuran melawan orang-orang Kristen lain.
Tanggapan yang ditujukan pada panggilan Urbanus, meningkatkan kuasa kepausan. Ia berhasil mengumpulkan sejumlah besar prajurit yang bersedia mati demi imannya, perbuatan yang tidak dapat diremehkan oleh pangeran mana pun.
Pergumulan kekuasaan antara Gereja dan negara belum usai.
Sumber : http://www.sarapanpagi.org/100-peristiwa-penting-dalam-sejarah-kristen-vt1555-20.html
033) Tahun 1115 Bernardus Mendirikan Biara di Clairvaux
Patung Bernardus di gereja paroki di Fontaines-Les-Dijon, tempat kelahiran Bernardus.
Kebiaraan telah menentukan cita-cita kesucian dan kesederhanaan untuk kalangannya sendiri. Untuk sementara waktu, setiap gerakan biara memenuhi secara efektif maksud-maksud baik itu, tetapi lambat-laun kelengahan dan keduniawian telah menguasainya. Maka, sebuah tatanan baru, dengan ketulusan dan kesederhanaan yang lebih keras, muncul.
Lewat pertengahan abad kesepuluh, para Benediktin telah menjadi mangsa kuasa tersebut dan membutuhkan pembaruan. Dari golongan mereka sendiri berkembanglah Cistercian (Ordo Biarawan Pulih), yang ingin kembali ke hidup sederhana dengan bekerja dan berdoa.
Seorang Cistercian yang paling besar — seorang yang sangat mempengaruhi Gereja zaman pertengahan - adalah Bernardus. Ia meyakinkan tiga puluh biarawan dalam ordonya, untuk mengikutinya ke sebuah biara baru, yang akan ia bangun di Clairvaux. Dari biara itu, Bernardus membawa namanya ke dunia Kristen. Menjelang kematiannya pada tahun 1153, ia telah mendirikan enam puluh lima rumah Cistercian, mendorong orang-orang beriman teguh, menyulitkan para raja, menghasilkan para paus dan mengkhotbahkan Perang Salib.
Sambil mencari reformasi moral dan kesucian pribadi, Bernardus menekankan keharusan pengalaman pribadi tentang Kristus dan mendorong penyangkalan diri serta mengubah cinta terhadap duniawi menjadi cinta terhadap Allah. Tekanannya itu membawa ke kesucian umum yang lebih Iuas.
Sebagai seorang teolog dan penulis berinspirasi, Bernardus berkata bahwa teologi dan pemahaman Alkitab "harus menembus hati ketimbang penjelasan kata-kata". Tidak seperti para Skolastik yang menekankan akal budi, Bernardus berfokus pada perlunya perubahan hidup. Ia berupaya semampunya membungkam berbagai ajaran orang-orang seperti Petrus Abelardus, contoh sempurna dari orang yang selalu ragu-ragu pada Abad Pertengahan.
Meskipun Bernardus berpegang teguh pada ortodoksi, ia membawa tekanan kuat pada Maria bagi kesalehan abad pertengahan. la menolak doktrin Immaculate Conception (Doktrin tentang Maria yang dikandung tanpa dosa). Baginya, hanya Kristus yang tidak berdosa. Di kemudian hari, orang-orang Kristen mengembangkan ide-idenya dan menjadikannya sistem kepercayaan Gereja.
Meskipun Bernardus menyukai kehidupan sederhana, kesohorannya sebagai santo, penulis dan pengkhotbah tersebar jauh melewati tembok-tembok biaranya. la terlibat dalam politik yang bergejolak ketika itu, hingga ke titik penentuan antara dua pesaing yang menuntut takhta paus. Ia juga adalah juru bicara yang gagah untuk Perang Salib Kedua – yang terbukti tidak efektif sama sekali.
Terkadang, orang yang berpikiran tinggi ini keras kepala dan tidak bertenggang rasa. Keberadaannya sebagai campuran antara tokoh publik dan mistik sungguh mengherankan. Ia tetaplah pembela kebenaran, orang yang ikut campur tangan dalam urusan dunia, namun tetap tidak tercemari oleh urusan-urusan itu. Bernardus dari Clairvaux mewariskan kepada orang lain tujuan tunggalnya: penyerahan sepenuhnya kepada Allah.
Sumber : http://www.sarapanpagi.org/100-peristiwa-penting-dalam-sejarah-kristen-vt1555-20.html
034) Tahun ±1150 Universitas Paris dan Universitas Oxford Didirikan
Oxford University
Apa yang akan terjadi jika Anda berdebat dengan profesor teologi Anda – mungkinkah Anda menang? Kemungkinannya, pada Abad Pertengahan, Anda akan dicap sebagai seorang penganut ajaran sesat dan akan dikeluarkan dari sekolah. Hal itulah yang terjadi pada diri Petrus Abelardus yang cerdas. Inilah salah satu sebab berdirinya universitas.
Pada awalnya, pendidikan lanjutan selalu diberikan di biara-biara atau di sekolah-sekolah katedral. Tetapi sekolah-sekolah semacam ini mulai menarik guru-guru dari luar biara. Guru-guru seperti ini selalu mempertanyakan dogma gereja yang resmi.
Itulah kasus Abelardus. Ia dan beberapa orang seperti dia menjalankan "praktik privat" dan hidup dari honor yang disumbangkan para murid di tempat mereka mengajar. Abelardus sendiri mempunyai bermacam-macam karir. Ia mendirikan sekolahnya sendiri di St. Denis, kembali mengajar di Katedral Notre Dame, kemudian mengajar di sekolahnya sendiri. Kesohorannya menarik murid-murid ke Paris, tetapi Gereja tidak yakin apakah ia dapat dipercaya. Akhirnya, sekelompok guru semacam itu, yang dipecat dari biara-biara di Notre Dame, mendirikan usaha di tepi kiri Sungai Seine.
Ada perdebatan: apakah Bologna atau Paris yang mempunyai "universitas" pertama. Di Bologna, guru Irnerius mendirikan sekolah hukum pada tahun 1088, yang diizinkan oleh Kaisar Frederick Barbarossa pada tahun 1159. Tetapi istilah "universitas" datangnya dari Paris. Pada zaman pertengahan, semua jenis usaha diorganisasi dengan rapi. Jadi, para guru dan murid sepanjang Seine mengorganisasi sejenis serikat sekerja, Universitas Societas Magistrorum et Scholarium (Masyarakat Universal Pengajar dan Murid), di bawah kuasa seorang rektor. Rektor ini secara agak longgar bertanggung jawab pada uskup Paris, dan mempunyai wewenang memberikan surat izin mengajar.
Pada tahun 1200, Philip II dari Perancis memberikan status resmi bagi "universitas" ini. Seperti di Bologna, para pengajar dan pelajar memiliki keistimewaan sosial dari rohaniwan, walaupun terpisah dari mereka. Paus Innocentius III (yang telah belajar di Paris) menguatkan status sekolah tersebut pada tahun 1208. Pengurus universitas benar-benar mogok pada tahun 1229 — 1231 karena pertikaian dengan uskup tentang pengawasan proses pendidikan. Paus Gregorius IX mengakhirinya dengan pengaturan sendiri bagi sekolah tersebut.
Universitas Paris menjadi poros pendidikan bagi sebagian besar Eropa, sekurang-kurangnya di bagian utara pegunungan Alpen. Dengan demikian, berkembanglah empat "kebangsaan" dalam studi, dengan mengelompokkan guru dan murid dari latar belakang yang sama: Perancis, Inggris/Jerman, Normandia, Picardia (dari dataran rendah). Para pelajar asing membutuhkan pemondokan juga, yang telah disediakan negara. Hal inilah yang membentuk kerangka "colleges" (perguruan-perguruan tinggi) di bawah naungan universitas. Paris pun mengembangkan empat bidang studi: seni, kedokteran, hukum dan teologi.
Pada tahun 1167, jauh sebelum universitas Paris menerima status resmi, Henry II melarang pelajar Inggris belajar di Paris. Sebuah Studium Generale pun didirikan di Oxford, yang diorganisasikan secara resmi di bawah seorang rektor, pada tahun 1215.
Abad ketiga belas merupakan masa subur pendidikan. Paris, Oxford dan Bologna menjadi pusat-pusat teologi, filsafat dan ilmu pengetahuan. Berbagai peristiwa ini telah membentuk tradisi pendidikan yang terpelihara sampai hari ini.
Universitas-universitas tersebut merupakan inkubator (alat penetas telur) bagi Renaisans (masa kebangkitan kembali) masa Reformasi.
Sumber : http://www.sarapanpagi.org/100-peristiwa-penting-dalam-sejarah-kristen-vt1555-20.html
035) Tahun 1173 Peter Waldo Memulai Gerakan Kaum Waldens
Peter Waldo
Sebelum Reformasi, beberapa kelompok orang Kristen merasa keberatan atas jalan yang ditempuh Gereja Katolik. Salah satunya ialah kaum Waldens, yang dimulai seorang saudagar Perancis, yang merasa kecewa terhadap gereja Abad Pertengahan.
Pada suatu hari, Peter Waldo mendengar seorang penyanyi keliling bernyanyi tentang seorang muda yang kaya, yang meninggalkan keluarganya dan kembali setelah bertahun-tahun lamanya. Orang muda itu kembali dengan berpakaian seperti seorang pengemis dan menjadi begitu kurus sehingga sanak keluarganya sendiri tidak mengenalinya. Hanya saat ia menemui ajalnya ia menampakkan identitas sesungguhnya. Ia telah hidup di antara orang-orang miskin dan mati dengan gembira, gembira akan menemui Allah yang selalu tersenyum kepada orang miskin.
Tergerak oleh cerita itu, Waldo segera bertindak, menyisihkan dana secukupnya untuk istrinya, dan menempatkan kedua putrinya di asrama. Sisa kekayaannya ia bagikan kepada orang miskin. Ia mempekerjakan dua orang imam untuk menerjemahkan Alkitab dalam bahasa Perancis dan mulai menghafal tulisan-tulisan panjang. Kemudian ia mulai mengajar orang-orang biasa tentang Kristus.
Meskipun para biarawan dan biarawati telah mengajar tentang kemiskinan dan penyangkalan diri — walaupun mereka sendiri sering gagal berpegang pada sumpah mereka — gereja melihat hal ini sebagai sesuatu yang perlu mereka praktikkan. Tidak banyak orang berharap bahwa orang-orang biasa dapat hidup suci.
Waldo dan para pengikutnya — yang menamakan dirinya sebagai Orang-orang Miskin dari Lyons — yakin bahwa Yesus menginginkan ajaran-Nya dijalankan semua orang. Dengan berpasangan para Waldens mengunjungi tempat-tempat umum, mengajarkan Perjanjian Baru kepada orang-orang awam.
Perbedaan antara Gereja dan para pengajar ini tampak jelas bagi uskup agung Lyons. Ia memerintahkan mereka menghentikannya. Waldo menyitir Rasul Petrus: "Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia" (Kis. 5:29). Meskipun uskup agung mengucilkan Waldo, hal itu tidak menghentikan dia ataupun gerakan yang menyandang namanya. Para Waldens mengajukan banding kepada Paus Alexander II. Meskipun ia dapat dikejar sampai pada Persidangan Lateran Ketiga (1179), orang-orang Waldens yang sibuk "berpasangan, berjalan tanpa alas kaki, berpakaian wol, tanpa memiliki apa pun, dengan anggapan semua benda milik bersama seperti para rasul", mengesankan Paus. Karena mereka hanyalah orang-orang awam belaka, walau bagaimanapun, ia tidak dapat mengizinkan mereka mengajar tanpa persetujuan seorang uskup — suatu hal yang tidak mungkin mereka capai.
Mengingat perkataan dalam Kisah Para Rasul, Waldo dan pengikutnya melanjutkan pengajarannya. Ini mengakibatkan pengucilan mereka oleh Paus Lucius III pada tahun 1184.
Kaum Waldens tidak mengajarkan ajaran sesat, walaupun Gereja menuduh mereka demikian. Mereka bersifat ortodoks. Namun, karena mereka berada di luar struktur gereja, para pengikut Waldo ini tidak mendapat pengakuan hierarki Gereja. Bagi orang-orang gerejawi Abad Pertengahan, apa pun yang ada di luar Gereja adalah ajaran sesat.
Banyak orang Kristen Perancis dan Italia, yang telah kecewa dengan Gereja yang bersifat duniawi, berpaling ke Waldensian, yang mengajarkan imamat bagi setiap orang percaya. Mereka menolak relikwi, ziarah dan paraphernalia seperti air suci dan pakaian-pakaian rohaniwan, hari-hari para santo dan perayaan lainnya, serta purgatory. Komuni bukanlah sesuatu untuk dilaksanakan setiap hari Minggu, dan para pengkhotbah Waldens berbicara serta membacakan Injil kepada orang-orang dalam bahasa mereka sendiri.
Pada tahun 1207, Paus Innocentius III menawarkan bahwa para Waldens akan diterima jika mereka mau tunduk pada para pejabat Gereja Katolik. Banyak yang kembali — tetapi yang lain tidak. Pada tahun 1214 Paus mengutuk mereka sebagai orang-orang berhaluan ajaran sesat dan menyerukan agar mereka ditindas. Inkuisisi (penyelidikan dan pengadilan Gereja Katolik) melaksanakan tugasnya dengan melenyapkan mereka.
Kendati mengalami semua penindasan ini, namun kaum Waldens tidak jera, dan tetap meneruskannya. Mereka menyebar di seluruh Eropa, dan ketika Reformasi muncul, mereka disambut hangat oleh sebagian kaum Protestan. Sekarang mereka menganggap dirinya sebagai orang-orang Protestan. Kaum Waldens adalah saksi hidup bahwa pada masa-masa suram sejarah Gereja, gerakan perbaikan bate selalu akan muncul dari dalam Gereja.
036) Tahun 1206 Fransiskus dari Asisi Meninggalkan Kekayaannya
Memasuki abad ketiga belas, masa depan bagi pemuda Fransiskus Bernardone tampak cerah. Sebagai seorang putra pedagang kain di Asisi, Italia, Fransiskus tentunya dapat mengharapkan kehidupan seorang kesatria dan kaya.
Asisi sedang berperang dengan tetangganya Perugia, jadi Fransiskus pun berangkat ke medan perang. Dengan pakaian besi, helm berjambul dan tombak di sisinya, ia tampak bersinar. Karena tertangkap dalam suatu pertempuran, ia menjadi tawanan perang selama satu tahun di Perugia. Tidak berapa lama setelah dibebaskan, ia sakit parah. Semua pengalaman ini membuatnya bertanya-tanya apa arti harta yang diwarisinya.
Suatu hari, ketika ia sedang berkuda, ia melihat seorang penderita lepra di jalanan. Fransiskus sebelumnya pernah merasa mual melihat pengemis seperti ini dan mulai melarikan kudanya dengan cepat melewati dia, tetapi orang ini beda adanya. Penderita lepra ini berparaskan wajah Kristus. Diliputi dengan perasaan devosi spiritual, Fransiskus turun dari kudanya dan mencium pengemis tersebut. Ia memberi uang kepada pengemis itu, dan membawanya ke tujuannya dengan duduk di atas kuda di belakangnya.
Dorongan untuk mempedulikan orang-orang yang sedang membutuhkan bertumbuh dalam diri Fransiskus, meskipun ayahnya mengejeknya. Pada tahun 1206 Fransiskus meninggalkan rumahnya, melepaskan harta ayahnya, kemudian ayahnya memutuskan hubungan dengan dia. Orang muda ini mengabdikan dirinya pada kehidupan miskin. Makanan atau pakaian sekecil apa pun akan diberikannya kepada mereka yang membutuhkannya. Ia sendiri menjadi seorang pengemis, tanpa malu-malu meminta-minta dari orang "berada", agar ia dapat membagikannya kepada orang yang "tidak berada".
Fransiskus mulai berkhotbah di kapel-kapel dekat Asisi yang telah ditinggalkan. Pesan Injil yang sederhana tentang kasih dan pelayanan telah menghasilkan banyak pengikut setia. Bagi mereka yang ingin bergabung dengannya dengan meninggalkan harta mereka, ia menggariskan sekumpulan peraturan untuk hidup; peraturan-peraturan dasar Ordo Fransiskan (Fransiscan Order). Ia bersama-sama tujuh orang rekannya pergi ke Roma untuk mendapatkan persetujuan Paus bagi ordonya.
Menjelang tahun 1218, sudah ada sekurang-kurangnya 3.000 pengikut Fransiskus. Ia telah mengobarkan semangat mereka. Gereja telah menimbun harta dan kuasa. Dalam masyarakat Italia, yang kaya bertambah kaya, dengan restu Gereja, sementara si miskin mati kelaparan. Namun, Fransiskus menawarkan cara kesederhanaan baru, yang tidak dinodai oleh ketamakan. Banyak yang taat beragama mengikuti teladannya. Banyak lagi, yang tidak ingin mengorbankan hartanya, mengagumi para pengkhotbah miskin ini dan mendukung mereka dengan pemberian sedekah.
Berabad-abad kemudian, Martin Luther mengkritik dengan tajam tradisi Fransiskan ini karena penekanannya pada perbuatan baik – menurutnya hanya iman yang akan memberi keselamatan. Namun, dalam banyak hal, kedua reformis ini bertempur melawan musuh yang sama: gereja yang hanya mempedulikan kelestarian statusnya sendiri, dan melupakan ajaran-ajaran Kitab Suci yang sederhana.
Pada puncak kemasyhurannya, pada bulan Oktober tahun 1226, Fransiskus wafat. Dua tahun kemudian ia diangkat menjadi santo. Kata-kata terakhirnya ialah, "Saya telah menunaikan tugas saya, semoga Kristus sekarang mengajar Saudara tugas-tugas Saudara."
Sumber : http://www.sarapanpagi.org/100-peristiwa-penting-dalam-sejarah-kristen-vt1555-20.html
037) Tahun 1215 Konsili Lateran Keempat
Konsili Lateran Keempat
Paus yang berkuasa antara tahun 1198 dan 1216, Innocentius III, mewujudkan kepausan yang sangat berkuasa dalam sejarah Abad Pertengahan. Orang yang susah diajak kompromi dan yang berbakat ini berupaya membawa ketertiban dan disiplin pada Gereja. Ia mengadakan perubahan dan memusatkan administrasi Gereja serta terlibat juga dalam urusan-urusan politik pada zamannya.
Innocentius menginginkan kepausan yang mengontrol berbagai urusan gerejawi dan negara. Apabila para Paus yang terdahulu menjuluki diri mereka sebagai "wakil Petrus", Innocentius menuntut hak sebagai "wakil Kristus". Dengan menyatakan bahwa ia adalah duta Kristus di bumi, ia berkata bahwa Paus adalah "perantara antara Allah dan manusia, di bawah Allah tetapi di atas manusia". Dengan tegas ia menjalankan tugasnya, seperti mengasingkan para pangeran yang susah diatur ataupun mengusir orang-orang sesat.
Pada tahun 1215, pada Konsili Lateran Keempat, Gereja menyerap banyak ide-ide innocentius. Dalam sidang yang panjang selama tiga hari, mereka menghasilkan ratusan dekrit.
Karena Innocentius merasa peduli, bahwa setiap orang Kristen yang telah dibaptis harus menampilkan citra kekristenan, sidang tersebut mewajibkan setiap orang mengaku dosa kepada seorang pastor dan mengambil komuni setiap tahun.
Melalui Konsili Lateran Keempat ini, doktrin "Transubstansiasi" (doktrin bahwa substansi roti dan anggur berubah menjadi substansi tubuh dan darah Kristus) dengan resmi menjadi bagian dari gereja. Secara tidak resmi, ide bahwa roti dan anggur adalah tubuh dan darah Kristus telah beredar selama bertahun-tahun. Gereja memandang pengambilan komuni sebagai bagian penting untuk mendapatkan keselamatan; penyangkalan, seperti halnya dengan pengucilan, berbahaya bagi jiwa. Dengan kesempatan berhubungan langsung dengan tubuh dan darah Kristus, para imam memegang peranan penting dalam otoritas Gereja. Pengucilan berkekuatan besar karena hal itu menyangkal hubungan seseorang dengan Kristus.
Menyadari ketidaktahuan banyak imam, Innocentius mendorong persidangan itu untuk memberlakukan peraturan bahwa setiap katedral harus memiliki seorang guru teologi. Dengan demikian akan ada orang yang memberi penjelasan kepada para imam.
Seirama dengan pandangan tinggi Innocent tentang otoritas paus, kepercayaannya bahwa hanya ada satu Gereja yang benar, tempat kebenaran spiritual tersimpan, telah mewujudkan kepausan yang lebih kokoh. Setuju atau tidak dengan Gereja bukan lagi suatu pilihan. Para pengikut ajaran sesat membahayakan bukan saja jiwa mereka sendiri, tetapi jiwa orang lain juga. Konsili mengatur langkah agar negara menghukum orang-orang sesat dan menyita harta mereka. Para pejabat yang enggan melepaskan orang sesat akan dikucilkan, dan mereka yang bekerja sama dengan Gereja akan menerima pengampunan penuh.
Sekali lagi Gereja menghadapi masalah penunjukan pejabat Gereja yang kafir. Para penguasa yang tidak beragama ditolak untuk menetapkan para uskup di kawasannya. Hanya paus yang dapat menetapkan atau mencopot uskup-uskup menurut Konsili. lnnocentius menolak menerima uskup agung Canterbury yang ditetapkan raja Inggris, John. Untuk memaksa John patuh, paus mengucilkannya. Karena takut akan kehilangan takhtanya, raja yang keras kepala itu akhirnya mengalah.
Konsili itu juga menyerukan agar orang-orang Yahudi diharuskan mengenakan identitas khusus. Orang-orang Kristen dilarang mengadakan transaksi dagang dengan mereka. Lambat laun hal ini mewujudkan perkampungan Yahudi tersendiri (Jewish ghettos).
Dalam dekrit ini dan yang lainnya, Innocentius telah menciptakan lembaga yang sampai Reformasi mempunyai pengaruh dominan di Eropa.
Subscribe to:
Posts (Atom)



